Pages

Sunday 4 September 2016

Momen Menakjubkan Itu Adalah Persalinan

Subhanallah wal hamdulillah wal laah ilaaha illallaah wallahu akbar.

NIkmat mana yang kau dustakan wahai hamba Allah :")

Saya masih mengingat setiap detik berlalu selama proses persalinan tiba. Momen yang lebih menakjubkan lagi setelah kehamilan 9 bulan. Seorang teman berkata, inilah jihad-nya seorang ibu :)

Ini rangkuman detik-detik (jam demi jam lebih tepatnya) saat persalinan itu berlangsung. Post ini akan sangat panjang, jadi yang tidak suka baca, just skip :)

Baby Tag - Naifa Shareen Mecca @dokpribadi

---

Selasa, 30 Agustus 2016

pk02.30 
Tidur saya tidak nyenyak malam itu, punggung sakit. Sekitar waktu tersebut, saya ke toilet untuk buang air kecil dan terkaget-bahagia saya melihat bercak/flek darah dan cairan pink di celana dalam :")  
Saya memastikan bahwa itu benar flek darah, saya memfotonya dengan maksud siapa tahu nanti bermanfaat jika ditanya dokter/bidan tentang tanda persalinan akan tiba. 
Saya bangunkan suami dengan mata berbinar-binar. Suami yang masih setengah lelap mengiyakan saja. "Kita pastikan nanti ya pas kontrol dr. Surahman", katanya. Hari Selasa malam memang jadwal saya kontrol dengan dokter obgyn. 
Saya coba kembali tidur tapi punggung saya semakin tidak nyaman, ditambah sedikit rasa mulas seperti ingin BAB.

pk04.30
Menjelang subuh saya kembali toilet. Flek kembali muncul. "Fix", dalam hati saya meyakini bahwa momen persalinan akan segera tiba. Alhamdulillah :)
Seminggu sebelumnya... 
Saya galau. Tanya sana sini. Baca ini itu. Apalagi banyak orang yang sudah bertanya "kapan lahiran?", "sudah lahiran?", "kok belum lahir?", dan pertanyaan sejenis. Khawatir.
Usia kehamilan menginjak 40w di tanggal 27 Agustus 2016, boro-boro melahirkan, tanda-tandanya saja saya tidak merasakan. Mulas, flek, sakit pinggul, ketuban pecah, semuanya TIDAK :( padahal saya sudah lakukan segala cara untuk induksi alami persalinan seperti: jongkok, sujud, berhubungan intim, jalan-jalan.
Dokter sudah mengingatkan kemungkinan tindakan induksi/sc jika hingga minggu depan tidak ada kontraksi.
FYI, kondisi janin di dalam perut saya memang mengalami terlilit tali pusat di leher. Berat badannya sudah 3,2 kg di penghujung semester, air ketuban di indeks 7 dengan normalnya 10. Deg-degan :/ 

pk06.00
Saya dan suami berangkat ke RSIA Resti Mulya bersama mama dan bude. Saat itu rasa mulas mulai terjadwal muncul setiap 20 menit sekali. Masih terasa seperti mulas ingin BAB. Setiba di RS, dibawa ke UGD dan dicek oleh suster (red: semua suster di sana adalah bidan). Cek VT (Vaginal Toucher) katanya pembukaan masih seujung jari, disebut pembukaan satu saja belum bisa. Tapi suster mengiyakan bahwa betul ini adalah tanda akan persalinan karena flek itu adalah cairan mucus. Dan kontraksi saya juga sudah terpola. Suster menghubungi dr. Surahman untuk menentukan "nasib" saya berikutnya. 
Saya standby di kamar inap pagi itu juga meski belum mulai pembukaan. Hal ini direkomendasikan oleh dokter karena saya sudah merasakan kontraksi jadi bisa sewaktu-waktu pembukaan bertambah. 
Saya coba menikmati waktu yang berlalu di kamar inap sambil meringis-ringis ketika kontraksi muncul. Masih acceptable sih rasa sakitnya :D

pk13.00
Selepas makan siang, suster kembali cek VT. Hasilnya? Pembukaan satu! Saya makin deg-degan. Sakit kontraksinya makin intens (10 menit sekali dengan rasa yang lebih "nikmat") tapi pembukaan baru 1. Baiklah ditunggu! Saya menyuruh mama dan bude pulang ke rumah karena kemungkinan masih lama menuju persalinan. 
Selain cek VT, suster juga merekam detak jantung janin (djj) dan gerakan janin dalam waktu satu jam -metodenya seperti perekaman ekg-. 
Selama di kamar, saya jalan bolak balik dan jongkok berdiri secara rutin dengan harapan pembukaan bisa bertambah.

pk20.00
Hari itu berjalan sangat lambat. Oiya setiap kontraksi saya merasakan ada darah keluar dari jalan lahir. Malam itu saya yakin pembukaan pasti bertambah. Intensitas kontraksi menjadi 8 menit sekali.   
Btw, saya pakai contraction counter di aplikasi Pregnancy+ untuk merecord jeda dan durasi kontraksi.
Semakin malam rasa mulasnya pun sudah beda, bukan seperti ingin BAB lagi. Undescribed
Suster kambali cek VT, hasilnya? Pembukaan masih satu! :"(

pk22.30
Dokter Surahman akhirnya mengunjungi kamar saya. Beliau praktek dulu hingga pasien terakhir, baru visit ke pasien kamar inap. Saya expected beliau akan cek ini itu, say ini itu, memberi penjelasan gamblang tentang kondisi saya. Aktualnya, beliau cuma sentuh perut, saying "kontraksinya bagus, ditunggu ya bu pembukaannya lengkap". End
Saya sempat minta pulang ke rumah menunggu pembukaan di rumah jelas lebih nyaman daripada di RS, dan lebih murah :p tapi dokter menyarankan di RS agar terkontrol detak jantung janin dan pembukaan jalan lahirnya. Baiklah.


Rabu, 31 Agustus 2016

pk03.00
Kontraksinya semakin intens, saya sudah tidak fokus menghitung jeda dan durasinya. Sakitnya semakin "nikmat" yang mulai not acceptable. Bukan hanya di area perut bawah, tapi punggung hingga pinggul sakit. Saya sudah mengerang-erang setiap kontraksi muncul. Selama proses itu, suami siaga di samping saya. Tak berhenti memberi afirmasi positif, memijat mengusap punggung, full support! Berdua saja kami lewati malam yang panjang itu. 
Sebelum menginjak subuh, saya tak tahan lagi dengan sakit kontraksinya. Saya minta suami memanggil suster, in case, ada cara mengurangi rasa sakitnya, atau setidaknya mengecek kembali pembukaan, siapa tahu sudah lengkap pembukannya.
Suster cek tensi, djj, dan VT. Hasilnya? Pembukaan masih di dua, WHAT !#/×%&#/+¥÷_/@£ 
Lemas badan. Mental drop. Suami kasihan melihat saya semakin kesakitan, khawatir saya kehabisan tenaga, mulai memikirkan opsi operasi cesar. Saya pun sempat tergoda tapi akal pikiran saya mengatakan "wanita lain bisa, mengapa kamu tidak?"
A very good thing, suster-suster yang rutin mengunjungi saya selalu memberi dukungan dan semangat untuk terus berjuang. Saya diajari bernafas panjang untuk menyamarkan rasa sakit kontraksi. Sebenarnya saya sudah belajar via video di Youtube tentang nafas panjang dan pendek saat persalinan, tapi aktualnya tetap susah mempraktekkan-nya dengan benar. Suami juga-lah yang mengingatkan untuk nafas panjang setiap saya mengerang sakit. Daripada tenaga habis untuk mengerang, lebih baik mengalihkan pikiran untuk bernafas panjang. Tips ini sangat membantu! 
Saya mencoba tidur miring kiri -konon katanya bisa meningkatkan pembukaan- selama itu juga sakitnya semakin tak tertahankan. Saya tidak tidur. Suami pun juga jadi tidak tidur menemani saya. Dia tidur seranjang dengan saya semalaman itu :")

pk05.00
Entah bagaimana saya mendeskripsikan kontraksinya saat itu. Kondisi kasur tidur juga sudah penuh dengan bercak darah. Suster kembali cek VT, hasilnya memberi saya pengharapan. Pembukaan sudah hampir 5. Alhamdulillah setidaknya ada progress daripada stay di angka 1 atau 2 sedari tadi. 
Suster kembali membawa saya ke ruang persalinan untuk rekam djj dan gerakan janin. Satu hal yang sangat saya syukuri adalah, meski pembukaan saya lambat, tapi dedek bayinya juga terus berjuang, buktinya detak jantungnya selalu normal. Saya dipindahkan di ranjang persalinan. Tiap kontrakasi saya melihat jarum jam, setidaknya sudah 5 menit sekali dengan rasa sakit yang begitulah~ :p 
Saya menyemangati diri sendiri, berharap ada peningkatan pembukaan. 

pk06.00
Suster cek VT. Pembukaan sudah (masih) 5. Ya Allah, semoga saya tidak perlu menunggu seharian untuk pembukaan lengkap. Saya hampir tak kuat lagi melewati kontraksi demi kontraksi. Meski keluar darah setiap kontraksi tapi air ketuban saya masih aman.

pk08.00
Suster cek VT.
"Wah sudah pembukaan 8 ibu!"
Meski sedang kesakitan, saya bahagia mendengarnya. Semakin semangat! 
Btw, selama menunggu di ruang persalinan, ada ibu muda yang datang dengan pembukaan sudah 6, saat perekaman djj, saya bisa mendengar rintihan kesakitannya. Di kamar bersalin memang ada 3 ranjang yang bisa dipakai bersamaan. Tidak ada sejam barangkali tahu-tahu ketuban ibu itu sudah pecah, pembukaan lengkap 10, dan ngeden dua kali, keluarlah tangis bayinya :")
Terintimidasi? Iyalah. Hahaha.

pk08.30
Kontraksinya lebih "menyerang" ke punggung dan pinggul. Terasa seperti ada sesuatu yang ingin keluar. Saya reflek ngeden untuk mengurangi rasa sakitnya. Tapi suster justru melarang keras ngeden sebelum waktunya karena akan berakibat buruk dan bisa jadi menggagalkan persalinan normal. 
Suami lagi-lagi yang mengingatkan setiap saya reflek ngeden.
Saya merasa ingin BAK, tapi tidak bisa keluar. Saya merasa ingin BAB, tapi khawatir justru membuat saya ngeden. Bingung. Takut. Sakit. Campur aduk.

pk09.00
Suster membantu saya BAK dengan teter karena kalau kandung kemih tidak dikosongkan, bayi akan susah turun. Saya tidak diinformasikan pembukaan lengkap tapi yang saya ingat, tiba-tiba sudah ada empat suster mengelilingi saya. Ada yang memecahkan ketuban, ada yang menarik kaki saya agar terbuka lebih lebar, ada yang mendorong punggung, dan ada yang aktif menyemangati saya.  
Akhirnya saya diperbolehkan ngeden. Setiap mulas yang disertai keinginan ngeden, pastikan ambil nafas sebanyak mungkin dan ngeden-lah dengan kuat dan panjang. 
Guess what! Saya ngeden lebih dari sepuluh kali selama lebih dari sejam tapi tidak berhasil mengeluarkan kepala bayi. Sakit sih tidak, tapi saya selalu kehabisan nafas saat ngeden. Alhasil meski sudah terlihat ujung rambutnya, kepala bayi kembali masuk begitu saya berhenti ngeden. Saat itulah saya menangis. Kontraksi sakit tidak membuat saya mengeluarkan air mata tapi kali ini berbeda. Saya frustasi dengan diri sendiri, saya kasihan dengan bayi saya yang tak kunjung keluar.

pk10.00
Ya Allah beri kekuatan. Saya tak berhenti mengucap Bismillah. Satu suster berujar jika masih belum bisa keluar akam ada tindakan karena terlalu lama dalam kondisi seperti ini akan membahayakan bayi. Saya salut kekuatan bayi saya, djj-nya masih normal, artinya ia masih mau berjuang. Saya tak boleh berhenti. 
Di akhir-akhir kesempatan, saya berusaha sekuat mungkin, kata suami kemarin muka saya sampai merah ketika ngeden. Dan berakhirlah drama persalinan di waktu pk10.21 ketika Naifa Shareen Mecca lahir. Keluar sempurna disertai tangis kecilnya.


Sesudah itu semua berjalan seperti slow motion moment. Saya mendengar panjang dan beratnya dibacakan, saya dan suami sama-sama berlinang air mata terharu mengucap syukur untuk kebesaran Allah. Saya merasakan detak jantungnya ketika kami ditempelkan berdua untuk proses IMD. Setelah itu, suami mengadzani Naifa di ruang bayi karena bayi akan dihangatkan dan dibersihkan.

Keluarga saya baru sampai ke RS ketika saya tengah berjuang di ruang persalinan. Jadi semua proses persalinan dilewati hanya berdua dengan suami, dan saya semakin mencintainya setelah ini. Eaaak. :D

Sisanya kurang lebih seputar jahit menjahit, yang meski sakit tapi bisa dilalui sambil tertawa sambil mengobrol dengan suster-suster. Btw, suster di sana adalah bidan muda yang kebanyakan belum menikah, high recommended untuk yang mencari calon istri -pesan susternya untuk dipromosikan- hehehe. Benar kata orang, setelah melahirkan normal wanita hampir tidak merasakan sakitnya dijahit hihihi.

Satu jam kemudian, saya selesai dibersihkan. Dipakaikan pakaian bersih. Diantar kembali ke kamar inap.


---

Kamis, 1 September 2016
Saya diizinkan pulang. Alhamdulillah saya dan Naifa sehat. Saya sudah naik turun tangga di hari itu. Sudah belajar menyusui dan menggendongnya.



Persalinan itu wujud perjuangan ibu. Tak salah maka disebut surga di telapak kaki ibu. Apapun cara melahirkannya, semuanya adalah pengorbanan. Sembilan bulan yang menakjubkan diakhiri dengan persalinan yang lebih menakjubkan lagi :)
Selamat dan terimakasih untuk ibu-ibu sedunia. Mari kita cetak generasi yang kuat, bermanfaat untuk umat. Semangat!



***
Next post: Melahirkan di RSIA Resti Mulya
Saking puasnya saya dengan pengalaman melahirkan di sana, saya janji akan membuat tulisan khusus. Terimakasih dr. Surahman yang sangat pro-Normal; suster (bidan) yang ramah, sabar, berpengalaman; perawat bayi yang baik dan tak kalah sabar; dan semua petugas yang tak berhenti tersenyum melayani pasien. Terakhir, sedikit spoiler post berikutnya, biaya akhirnya terjangkau untuk fasilitas dan pelayanan seterbaik itu! Stay tune for next updates.

7 comments:

  1. Saya sangat terharu baca perjuangan mba nana utk normal. Semoga saya pun bs merasakan persalinan normal.

    ReplyDelete
  2. Maaf saya mau tanya jadi pas lahiran sama dokter kandungan siapa? Dan dokter kandungannya apakah yang melihat pembukaan atau suster bidan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg mengecek pembukaan bidan-nya mb, malah sampe lahiran sy akhirnya ditangani bidan, krn dokternya terjebak macet pagi itu pas perjalanan menuju rs.

      Delete
  3. Masyaallah bisa normal saya di rscm udah pembukaan 7 itu proses dr jam 14.00 sampai jam 19.00 eh jadinya malah SC ktnya ketuban udah indeks 3 dr 10 pdahal mah udah mau keluar rasa bab gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah mba, ya mau sc atau normal yg penting ibu dan bayinya sehat ya, semangaaaat menjalani peran baru. Hwaiting!

      Delete